nawa, nawa vice-roy, vice-roy

Senin, 28 September 2015

Simbol-simbol Perkawinan dan Maknanya


Budaya Jawa dikenal sangat dipengaruhi oleh tradisi kratonnya. Dalam perkawinan yang berlatar belakang budaya ini banyak sekali simbol-simbol budaya dan hiasan yang memiliki makna tertentu yang berasal dari tradisi kraton tersebut. Latar belakang budaya Islam yang diusung dalam sebuah perkawinan turut pula menyumbangkan pengaruhnya. Diantara hal tersebut adalah:




1. Patah

Patah adalah dua anak kecil putri yang berjalan di depan pengantin. Ketika pengantin duduk, mereka bertugas untuk mengipasi keduanya.


2. Domas dan Manggolo 

Domas atau putri domas adalah dua orang gadis muda yang mengiringi pengantin wanita. Sedangkan manggolo adalah dua orang anak muda yang mengiringi pengantin pria, meskipun sesungguhnya berasal dari keluarga pengantin wanita. Masing-masing domas dan manggolo membawa kembar mayang dan saling menukarkannya ketika prosesi jemuk berlangsung. Putri domas dalam pernikahan ibarat dayang-dayang bagi seorang ratu. Sedangkan para manggala adalah ibarat para punggawa kerajaan.

3. Janur kuning

Rangkain janur/bleketepe kuning dipasang di gerbang atau pintu masuk tempat acara resepsi. Dari pemasangan ini diharapkan akan hilang kemungkinan yang tidak diinginkan dan sebagai tanda bahwa adanya pernikahan yang akan berlangsung dirumah tersebut. Janur juga dapat dimaknai dengan “jalarane nur” atau bahwa rumah tangga sebagai sarana untuk menghadirkan cahaya “pepadang” dalam sebuah kehidupan.

4. Kembar mayang

Kembar mayang merupakan rangkaian yang dibuat dari bermacam daun dan banyak ornamen dari janur yang dirangkai dan ditancapkan pada potongan pohon anak pisang. Dari janur dibuat ornamen berbentuk tugu-tuguan/gunungan, uler-uleran, keris, manukan, dan pecut. Sementara macam daun yang digunakan adalah daun beringin, andong, gondoroso, dan mayang jambe.

Ornamen berbentuk tugu atau gunung melambangkan simbol sosok laki laki yang (harus) penuh pengetahuan, pengalaman dan kesabaran. Ornamen seperti keris memberikan makna bahwa pasangan pengantin hendaknya berberhati-hati dalam kehidupan, pintar dan bijaksana laksana sebuah keris. Ornamen uler-uleran merupakan simbol keajegan bergerak dalam hidup terutama dalam keluarga dan lingkungan. Ornamen seperti pecut memberikan dorongan untuk sikap energik, cepat berpikir dan mengambil keputusan untuk menyelamatkan keluarga. Sedangkan ornamen seperti burung melambangkan motivasi tinggi untuk kehidupan.

5. Pohon pisang lengkap dengan buah dan ontong-nya

Pohon pisang diletakkan di sebekah kiri kanan gapura/pintu masuk tempat resepsi. Lebih diutamakan jika buah pisang yang dipasang tersebut telah matang. Diantara makna yang dikandung adalah bahwa suami hendaknya menjadi kepala keluarga ditengah kehidupan bermasyarakat. Seperti pohon pisang yang bisa tumbuh baik dimanapun dan rukun dengan lingkungan, diharapkan keluarga baru yang dipimpin suami ini juga akan hidup bahagia, sejahtera dan rukun dengan lingkungan sekitarnya.

6. Cengkir gading

Cengkir gading atau kelapa kecil berwarna kuning, melambangkan kencang dan kuatnya pikiran baik, sehingga diharapkan kedua mempelai akan dengan sungguh-sungguh terikat dalam kehidupan bersama yang saling mencinta.

7. Dekorasi (kwade) pengantin

Dekorasi atau background hiasan pernikahan adalah sebuah kwade yang terdiri dari sebuah rono (krobongan) dengan lebar sesuai dengan kapasitas ruangan. Hiasan bunga hidup atau palsu melengkapi keindahan rono yang ada. Jika memungkinkan, taman dan air mancur seringpula ditambahkan di depan rono.
Pemilihan bentuk dekorasi dan warnanya turut menentukan corak dan warna pakaian yang akan dikenakan oleh pengantin dan keluarganya dalam resepsi perkawinan.

8. Pakaian 

Pada saat acara Jemuk penganten berlangsung, kedua penganten mengenakan pakaian kebesaran kanalendran solo seperti layaknya seorang raja dan ratu. Pengantin pria memakai baju hitam beskap bludru lengkap dengan keris dan kuluk (topi tinggi khas raja jawa) nya, atau jika terpaksa –seperti tinggi badan yang lebih dan tidak seimbang dengan pengantin wanita-- maka ia menggunakan blangkon. Hiasan tambahan yang dikenakannya adalah dasi kupu-kupu, kalung dan bros dari roncen bunga melati. Pengantin wanita juga memakai baju bludru solo putri dengan gelungan dan hiasan rangkaian bunga melati di rambut dan tiba dada (roncen melati yang menjuntai dari gelungan rambut terus ke dada) di dada sebelah kiri. Nuansa gebyar, “menyala” (warna mencolok), dan mewah biasanya sangat nampak untuk membedakan pengantin dengan yang lainnya.

Pakaian orang tua (ayah) kedua pengantin adalah pakaian kejawen berupa beskap lengkap dengan angkin, sabuk, dan kerisnya. Kain (jarit) adalah motif truntum yang bermakna harapan masa depan yang cerah. Pakaian ibu pengantin adalah kebaya dengan angkin slindur. Kain yang dipakai sama dengan para bapak, yakni motif truntum.

Ketika acara resepsi berlangsung dilakukan kirab temanten dan selanjutnya rombongan berjalan menuju ruang ganti untuk lukar busana (ganti pakaian) yang bernuansa mataraman dan lebih santai. Seluruh “rombongan” yang terdiri dari patah, domas, manggolo, dan kedua pasang bapak-ibu turut berganti pakaian dan menyesuaian dengan corak yang dipakai kedua pengantin.

Menutut perias Ibu Lia, tren pakaian pengantin dan “keluarga” nya saat ini adalah busana jawa muslim. Tren ini sangat nampak pada pengantin wanita, para ibu pengantin, patah, dan domas. Pengantin wanita memakai jilbab melati dengan daleman (lapisan di bawah jilbab) berwarna hitam seperti rambut atau warna kuning. Para wanita selain pengantin wanita memakai kerudung dengan rambut tetap di-gelung.

9. Musik kebogiro dan syrakalan

Dengan lantunan musik kebogiro yang dipergunakan mengiringi keseluruhan prosesi ritual adat diharapkan menambah kehidmatan dan kesakralannya. Pemilihan musik “kebogiro kedu” merupakan “bedah rangkah” atau pembuka acara selamatan/resepsi. Disamping itu, musik syrakalan sering pula diperdengarkan untuk menggantikan kebogiro atau diperdengarkan sebelum kebogiro. (Wawancara dengan Modin Ibn Batutah, Ibu Lia, dan M. Khalil )

Simbol-simbol dan hiasan dalam pernikahan Jawa-Islam merupakan kekayaan budaya yang kaya makna. Menurut praktisi dekorasi M. Khalil, selain memiliki akar pada budaya jawa, hiasan pada pernikahan juga memiliki landasan agamis. Dengan mengutip kitab al-Sab’iyyat yang merupakan hamisy kitab al-Majalis al-Saniyyah halaman 111, Khalil menunjukkan hadith yang menyebutkan bahwa Allah memerintah para malaikat untuk menghias surga ketika Adam dan Hawa hendak menikah. Hanya saja lanjut Khalil, semua itu hanyalah “pelengkap” yang tidak perlu ditolak dan juga tidak perlu dipaksakan keberadaannya. Yang lebih penting imbuhnya adalah sosialisasi “makna-makna” tersebut agar dapat dipahami lebih baik oleh masyarakat. (Wawancara dengan M. Khalil)

Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa aspek simbol-simbol dan hiasan pada perkawinan memiliki makna yang cukup kaya dan mendalam. Kekayaan budaya ini hanya akan berupa simbol dan hiasan kosong jika tidak ada upaya untuk mensosialisasikannya. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa hanya orang-orang tertentu saja seperti perias, modin, dan praktisi dekor yang memahami makna-makna tersebut. Pemahaman yang baik ini pada gilirannya akan memberikan tuntunan yang cukup bagi kedua mempelai dan masyarakat dalam mengarungi kehidupan keluarga, disamping mengarahkan dan mengendalikan upaya-upaya modernisasi dan “penyederhanaan” terhadap kekayaan budaya dalam panggih temanten agar tidak terkesan “lepas” dan sekenanya.


Sumber
Nawa Vice-Roy Admin

Berkomentarlah dengan baik, bila ada komentar yang tidak sopan akan admin hapus. Terima kasih telah berkunjung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nawa Vice-Roy